Apakah Flek Kecoklatan Membatalkan Puasa Seorang Wanita? – Fiqih Wanita

MATERI FIQH WANITA : _Mengalami Darah Flek Kecoklatan, Batalkan Puasanya…?_

Oleh Abu Hashif Wahyudin Al-Bimawi

بسم الله الرحمن الرحيم
الســـلام عليــكم ورحــمة اﻟلّـہ وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَ نَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نَبِيَّ بَعْدَهُ

••• ═════༻🍃༺═════ •••

Salah satu masalah yang banyak membingungkan para Anak Adam, keluarnya flek kecoklatan. Apalagi ketika sedang puasa.
Apakah terhitung haid, sehingga puasanya batal, ataukah bukan haid sehingga tetap wajib melanjutkan puasanya…??

Pendekatan yang digunakan untuk menjawab permasalahan ini adalah batas waktu minimal darah yang keluar bisa disebut haid.

*Ada 3 pendapat ulama dalam hal ini:*

👉 *Hanafiyah berpendapat,* _batas minimal bisa disebut haid adalah 3 hari. Ketika darah itu keluar kurang dari 3 kali 24 jam, menurut hanafiyah, bukan darah haid.

Sehingga tetap wajib menjalankan aktivitas sebagaimana layaknya sedang suci._

👉 *Malikiyah berpendapat,* _sebaliknya, tidak ada batas waktu minimal untuk keluarnya darah haid. Wanita bisa mengalami haid, meskipun darah yang keluar hanya sekali.

Sehingga flek, menurut Malikiyah, terhitung sebagai haid._

*Sementara mayoritas ulama Syafiiyah dan Hambali:* _Menegaskan bahwa batas minimal haid adalah sehari semalam. Jika darah yang keluar kurang dari 24 jam, tidak terhitung haid.

Sehingga flek sekali – dua kali, tidak terhitung sebagai haid._

*Tarjih:*
_Pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa batas minimal haid adalah sehari semalam.

Diantara alasan yang mendukung pendapat ini adalah:

Pertama, satu istilah yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah, dipahami dengan tiga pendekatan:_

☝ *Makna syariat*

_Makna ‘urf (anggapan yang berlaku di masyarakat)_

☝ *Makna bahasa arab*

_Kaidah yang dijelaskan para ulama ushul, ketika ada satu istilah dalam Al-Quran dan Sunnah, penedekatan pertama adalah makna syariat, jika syariat tidak menjelaskan, berpindah pada makna ‘urf, pemahaman yang berlaku di masyarakat ketika itu, kemudian makna bahasa arab. *(Taisir Ilmi Ushul Fiqh, Dr. Abdullah Yusuf Al-Judai’, hlm. 260 – 262)*_

_Istilah ‘haid’ terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah. Hanya saja, dalil tentang haid dalam Al-Quran dan Sunnah hanya menjelaskan hukum-hukum yang berlaku ketika seorang wanita mengalami haid Namun tidak dijelaskan tentang definisi dan batasan haid.

Sehingga pendekatan dengan makna syariat, tidak memungkinkan. *(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 32684)*_

_Karena itu, mayoritas ulama mengembalikan batasan haid kepada makna ‘urf atau bahasa arab.

Secara bahasa, haid berasal dari kata hadha [arab: حاض ] yang artinya mengalir. Orang arab mengatakan, [حاضت الشجرة ] “pohon itu mengalami haid”, maksud mereka adalah pohon itu mengalirkan getahnya._

_Sementara yang namanya mengalir, secara bahasa, tidak teranggap hanya dalam bentuk spots, flek, atau tetes. Semacam ini secara bahasa tidak disebut haid._

Terdapat riwayat yang disebutkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu, beliau mengatakan,

*إِذَا رَأَتِ الْمَرْأَةُ بَعْدَ مَا تَطْهُرُ مِنَ الْحَيْضِ مِثْلَ غُسَالَةِ اللَّحْمِ، أَوْ قَطْرَةِ الرُّعَافِ، أَوْ فَوْقَ ذَلِكَ أَوْ دُونَ ذَلِكَ، فَلْتَنْضَحْ بِالْمَاءِ، ثُمَّ لِتَتَوَضَّأْ وَلْتُصَلِّ وَلَا تَغْتَسِلْ، إِلَّا أَنْ تَرَى دَمًا غَلِيظًا*

_“Apabila seorang wanita setelah suci dari haid, dia melihat seperti air cucian daging, atau flek, atau lebih kuran seperti itu, hendaknya dia cuci dengan air, kemudian wudhu dan boleh shalat tanpa harus mandi. Kecuali jika dia melihat darah kental.” *(HR. Ibnu Abi Syaibah no. 994)*_

*Keterangan:*

_Makna ‘air cucian daging’ (Ghusalah Lahm) adalah warna darah merah pucat, layaknya air yang digunakan untuk mencuci daging._

_Flek atau darah yang keluar statusnya najis, dan membatalkan wudhu. Karena itu, Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu memerintahkan agar dicuci dan berwudhu jika hendak shalat._

_*Imam Ibnu Utsaimin* pernah ditanya tentang status puasa wanita yang mengalami flek-flek, apakah puasanya sah…? Dan itu terjadi sepanjang bulan ramadhan.

Jawab beliau,_

*نعم ، صومها صحيح ، وأما هذه النقط فليست بشيء لأنها من العروق*

_“Ya, puasanya sah. Flek semacam ini tidak dianggap (sebagai haid), karena asalnya dari pembuluh.” *(Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/137)*_

Beliau juga mengatakan dalam kesempatan yang lain,

فما بعد الطهر من كدرة، أو صفرة، أو نقطة، أو رطوبة، فهذا كله ليس بحيض، فلا يمنع من الصلاة ، ولا يمنع من الصيام، ولا يمنع من جماع الرجل لزوجته، لأنه ليس بحيض

Cairan yang keluar setelah suci, baik bentuknya kudrah (cairan keruh), atau sufrah (cairan kuning), atau flek atau keputihan, semua ini bukan termasuk haid. Sehingga tidak menghalangi seseorang untuk shalat atau puasa, tidak pula hubungan badan dengan suaminya, karena ini bukan haid. (60 Sual fi Al-Haid)._

_Berdasarkan keterangan di atas, flek yang dialami oleh wanita yang sedang puasa, meskipun itu sering terjadi, tidaklah membatalkan puasanya._

============================

بحا نك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك*

•┈┈┈┈◎🌻🌻🌺🌻🌻◎┈┈┈┈•

Wallaahu A’lam Bish-Showwaab… Wallaahu Waliyyut Taufiq

_Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah pada hari ini.

Semoga bisa memberikan manfaat untuk kita semua, serta bisa sebagai acuan untuk senantiasa memperbaiki amal kita diatas sunnah Nabi Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Tidak berbicara agama dengan menggunakan Akal dan Hawa Nafsu melainkan dg Dalil Yang Shohih._

*سبحا نك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك*

•┈┈┈┈◎🌻🌻🌺🌻🌻◎┈┈┈┈•

*Sabtu, 5 Rabi’ul Tsani 1442 H / 21 November 2020 M*

Silakan SHARE pada yang lain yang belum mengetahui, agar Anda pun bisa dapat bagian pahala

Bolehkah Menolak Ajakan Suami Untuk Berhubungan? – Belajar Fiqih

Bolehkah Menolak Ajakan Suami Berhubungan karena tidak dinafkahi? – adalah sebuah pertanyaan yang banyak muncul di kalangan umat muslim di Indonesia. Pertanyaan ini kemudian masuk ke ranah Fiqih Muamalah dan butuh penjelasan “

Lalu bagaimana Solusi atau penjelasan secara Syar’i mengenai pertanyaan tentang boleh atau tidaknya seorang istri menolak ajakan suami hanya karena alasan tidak mendapatkan nafkah lahir?

Berikut ini salah satu penjelasan di website muslimah dari Ustadz Ammi Nur Baits – Dewan Pembina di website Konsultasisyariah.com tentang masalah sensitif apakah Boleh Menolak Ajakan Suami Berhubungan Karena Tidak Dinafkahi? atau menerima ajakan suami untuk melakukan hubungan suami istri.

Bolehkah Menolak Ajakan Suami Untuk Berhubungan
Seorang suami wajib memberikan nafkah kepada isteri

 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Suami maupun istri, masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang sebanding dengan posisinya. Karena itu, bentuk hak dan tanggung jawab masing-masing berbeda. Kaidah baku ini Allah nyatakan dengan tegas dalam al-Quran,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Para istri memiliki hak yang sepadan dengan kewajibannya, sesuai ukuran yang wajar.” (QS. al-Baqarah: 228).

 

Dari Tafsir surah ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa suami memiliki tanggung jawab dan begitu pula seorang isteri.

Tanggung Jawab Seorang Suami

Diantara tanggung jawab terbesar suami adalah memberi nafkah istri. Allah berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) di atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’: 34).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan,

فاتَّقوا الله في النِّساء؛ فإنَّكم أخذتموهنَّ بأمانة الله، واستحْلَلْتم فروجَهنَّ بكلمة الله، ولهُنَّ عليكم رزقُهن وكسوتُهن بالمعروف

“Bertaqwalah kepada Allah dalam menghadapi istri. Kalian menjadikannya sebagai istri dengan amanah Allah, kalian dihalalkan hubungan dengan kalimat Allah. Hak mereka yang menjadi kewajiban kalian, memberi nafkah makanan dan pakaian sesuai ukuran yang sewajarnya.” (HR. Muslim No.3009).

Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman keras bagi suami yang tidak memperhatikan nafkah istrinya. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرْء إثمًا أن يضيِّع مَن يقوت

“Seseorang dikatakan berbuat dosa, ketika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud No.1694, Ibnu Hibban No.4240 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

 

Pendapat Para Ulama mengenai pertanyaan Bolehkah Menolak Ajakan Suami Berhubungan

Ibnu Qudamah menyebutkan,

اتَّفق أهلُ العلم على وجوب نفقات الزَّوجات على أزْواجِهن، إذا كانوا بالغين؛ إلا النَّاشزَ منهنَّ، ذكره ابن المنذر وغيرُه

“Ulama sepakat suami wajib memberi nafkah istri, jika suami telah berusia baligh. Kecuali untuk istri yang nusyuz (membangkang). Demikian yang disebutkan Ibnul Mundzir dan yang lainnya.” (al-Mughni, 9/230).

 

Tanggung Jawab Istri

Sebaliknya, istri diperintahkan untuk mentaati suaminya. Selama suami tidak memerintahkan untuk maksiat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka dia dipersilahkan untuk masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR Ahmad No.1683, Ibnu Hibban No.4163 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ al-Fatawa, 32/260)

 

Hukum Melalaikan Kewajiban Terhadap Pasangan

Memberi nafkah batin/ memberikan kebahagiaan dengan bercampur suami isteri adalah Hak dan Kewajiban kedua pihak sebagaiman Dalil dan pendapat di atas adalah jawaban untuk kondisi yang agak normal serta ganjaran bagi yang melalaikan tanggung jawab.

Lalu pertanyaan yang muncul kemudian adalah Bagaimana Ketika Salah satu Kewajiban Tidak Ditunaikan?

Ketika salah satu tidak memenuhi kewajiban, maka yang terjadi adalah kedzaliman.

Suami yang tidak memenuhi kewajibannya, dia mendzalimi istrinya dan sebaliknya. Hanya saja, dalam keluarga, Islam tidak mengajarkan membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan. Karena masing-masing akan mempertanggung jawabkan tugasnya di hadapan Allah kelak di hari kiamat.

Sehingga, ketika suami tidak melaksanakan kewajibannya untuk istrinya, Islam tidak mengajarkan agar tindakan itu dibalas dengan meninggalkan kewajibannya. Karena yang terjadi, justru timbul masalah baru.

Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i mengatakan,

فإذا قصَّر أحدُ الزَّوجيْن في حقِّ الآخر، فليس للآخَر أن يقصِّر في حقِّه، فكلٌّ مسؤول عن تقْصيره يوم القيامة.

“Jika salah satu pasangan tidak menunaikan kewajibannya kepada yang lain, bukan berarti dia harus membalasnya dengan tidak menunaikan kewajibannya kepada pasangannya. Karena masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban disebabkan keteledorannya, pada hari kiamat.”

Pelanggaran yang dilakukan oleh suami, tidak boleh dibalas dengan pelanggaran dari istri. Sehingga dua-duanya melanggar. Karena itu, solusi yang diberikan pelanggaran balas pelanggaran, tapi diselesaikan dengan cara yang baik, antara bersabar atau pernikahan dihentikan.

Lalu apa yang harus dilakukan wanita

Syaikh ar-Rifa’i melanjutkan,

وفي حالة تقْصير الزَّوج في الإنفاق، فالمرأة مخيَّرة بين أن تصبِر على ذلك، وبين أن تطلُب الطَّلاق، فإنِ اختارت الصَّبر، فإنَّه يَجب عليْها أن تُطيع زوْجَها، ويَجب عليها أن تؤدِّي كلَّ الحقوق الواجبة عليْها لزوجها، ومن ذلك حقُّه في الفراش، وإنِ اختارت الطَّلاق لَم تأثم بذلك

“Ketika suami tidak menafkahi istrinya, ada dua pilihan untuk si wanita, antara bersabar atau melakukan gugat cerai. Jika dia pilih bersabar, maka istri wajib untuk memenuhi kewajibannya kepada suaminya. Termasuk hak untuk melayani di ranjang. Dan jika istri memilih talak, dia tidak berdosa.”

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/42859/حكم-امتناع-المرأة-عن-فراش-زوجها-إذا-قصر-في-واجباته

Al-Qurthubi mengatakan,

فهِم العُلماء من قوله تعالى: {وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ} أنَّه متى عجَز عن نفقتها لم يكن قوَّامًا عليها، وإذا لم يكن قوَّامًا عليها، كان لها فسخ العقد لزوال المقْصود الذي شرع لأجْلِه النكاح

“Para ulama memahami dari firman Allah, ‘Disebabkan mereka menginfakkan harta mereka.’ bahwa ketika seorang suami tidak mampu memberikan nafkah istrinya, dia tidak disebut pemimpin bagi istrinya. Jika suami tidak lagi menjadi pemimpin bagi istrinya, maka istri berhak untuk melakukan gugat cerai. Karena tujuan nikah dalam kasus ini telah hilang.” (Tafsir al-Qurthubi, 5/168).

Ibnul Mundzir mengatakan,

ثبت أنَّ عمر كتبَ إلى أُمراء الأجناد أن ينفقوا أو يطلِّقوا

“Terdapat riwayat shahih bahwa Umar menulis surat untuk para panglima perang, agar para suami memberikan nafkah istrinya atau mentalak mereka.” (Dinukil dari Subul as-Salam, 3/224).

Demikianlah jawaban singkat atas pertanyaan Bolehkah Menolak Ajakan Suami Berhubungan, semoga bisa memberikan pencerahan dan meningkatkan kebahagiaan hubungan suami isteri yang bahagia.

Allahu a’lam.

Artikel Bolehkah Menolak Ajakan Suami Untuk Berhubungan ini adalah salah satu Ilmu Fiqih Muamalah kehidupan sehari-hari yang wajib dipahami oleh seorang agen HNI agar bisa memberi solusi terhadap setiap keluhan mitra atau calon mitra yang ditemui di lapangan.

HNI HPAI adalah pelaung bisnis yang Fokus pada dua Sisi pemberdayaan yaitu pemberdayaan Kesejahteraan keluarga dengan harapan kasus kasus seperti di atas di mana suami tidak mampu menafkahi isteri karena alasan tidak memiliki perkerjaan bisa menemukan solusi.

Demikian pula sisi yang kedua yang menjadi fokus adalah sisi kesehatan keluarga yang juga banyak menjadi masalah di tengah keluarga musli termasuk hubungan suami isteri. Ada suami yang tidak sanggup memebahagiakan atau memberikan pelayanan kepada isteri karena kesehatan seksual yang terganggu ataupun seorang isteri yang mengalami gangguan kesehatan reproduksi.

Jika sahabat ingin menjadi solusi bagi kedua masalah tersebut silahkan bergabung menjadi agen HNI HPAI dan mulai tingkatkan Kapasitas sebagai kepala keluarga dalam mencari nafkah maupun dengan meningkatkan kesehatan reproduksi.

kedua solusi di atas bisa anda temukan di HNI HPAI. Silahkan klik tombol di bawah untuk bergabung!

Saya Mau Daftar Jadi Agen HNI HPAI