Bolehkah Menolak Ajakan Suami Untuk Berhubungan? – Belajar Fiqih

Bolehkah Menolak Ajakan Suami Berhubungan karena tidak dinafkahi? – adalah sebuah pertanyaan yang banyak muncul di kalangan umat muslim di Indonesia. Pertanyaan ini kemudian masuk ke ranah Fiqih Muamalah dan butuh penjelasan “

Lalu bagaimana Solusi atau penjelasan secara Syar’i mengenai pertanyaan tentang boleh atau tidaknya seorang istri menolak ajakan suami hanya karena alasan tidak mendapatkan nafkah lahir?

Berikut ini salah satu penjelasan di website muslimah dari Ustadz Ammi Nur Baits – Dewan Pembina di website Konsultasisyariah.com tentang masalah sensitif apakah Boleh Menolak Ajakan Suami Berhubungan Karena Tidak Dinafkahi? atau menerima ajakan suami untuk melakukan hubungan suami istri.

Bolehkah Menolak Ajakan Suami Untuk Berhubungan
Seorang suami wajib memberikan nafkah kepada isteri

 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Suami maupun istri, masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang sebanding dengan posisinya. Karena itu, bentuk hak dan tanggung jawab masing-masing berbeda. Kaidah baku ini Allah nyatakan dengan tegas dalam al-Quran,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Para istri memiliki hak yang sepadan dengan kewajibannya, sesuai ukuran yang wajar.” (QS. al-Baqarah: 228).

 

Dari Tafsir surah ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa suami memiliki tanggung jawab dan begitu pula seorang isteri.

Tanggung Jawab Seorang Suami

Diantara tanggung jawab terbesar suami adalah memberi nafkah istri. Allah berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) di atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’: 34).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan,

فاتَّقوا الله في النِّساء؛ فإنَّكم أخذتموهنَّ بأمانة الله، واستحْلَلْتم فروجَهنَّ بكلمة الله، ولهُنَّ عليكم رزقُهن وكسوتُهن بالمعروف

“Bertaqwalah kepada Allah dalam menghadapi istri. Kalian menjadikannya sebagai istri dengan amanah Allah, kalian dihalalkan hubungan dengan kalimat Allah. Hak mereka yang menjadi kewajiban kalian, memberi nafkah makanan dan pakaian sesuai ukuran yang sewajarnya.” (HR. Muslim No.3009).

Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman keras bagi suami yang tidak memperhatikan nafkah istrinya. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرْء إثمًا أن يضيِّع مَن يقوت

“Seseorang dikatakan berbuat dosa, ketika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud No.1694, Ibnu Hibban No.4240 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

 

Pendapat Para Ulama mengenai pertanyaan Bolehkah Menolak Ajakan Suami Berhubungan

Ibnu Qudamah menyebutkan,

اتَّفق أهلُ العلم على وجوب نفقات الزَّوجات على أزْواجِهن، إذا كانوا بالغين؛ إلا النَّاشزَ منهنَّ، ذكره ابن المنذر وغيرُه

“Ulama sepakat suami wajib memberi nafkah istri, jika suami telah berusia baligh. Kecuali untuk istri yang nusyuz (membangkang). Demikian yang disebutkan Ibnul Mundzir dan yang lainnya.” (al-Mughni, 9/230).

 

Tanggung Jawab Istri

Sebaliknya, istri diperintahkan untuk mentaati suaminya. Selama suami tidak memerintahkan untuk maksiat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka dia dipersilahkan untuk masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR Ahmad No.1683, Ibnu Hibban No.4163 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ al-Fatawa, 32/260)

 

Hukum Melalaikan Kewajiban Terhadap Pasangan

Memberi nafkah batin/ memberikan kebahagiaan dengan bercampur suami isteri adalah Hak dan Kewajiban kedua pihak sebagaiman Dalil dan pendapat di atas adalah jawaban untuk kondisi yang agak normal serta ganjaran bagi yang melalaikan tanggung jawab.

Lalu pertanyaan yang muncul kemudian adalah Bagaimana Ketika Salah satu Kewajiban Tidak Ditunaikan?

Ketika salah satu tidak memenuhi kewajiban, maka yang terjadi adalah kedzaliman.

Suami yang tidak memenuhi kewajibannya, dia mendzalimi istrinya dan sebaliknya. Hanya saja, dalam keluarga, Islam tidak mengajarkan membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan. Karena masing-masing akan mempertanggung jawabkan tugasnya di hadapan Allah kelak di hari kiamat.

Sehingga, ketika suami tidak melaksanakan kewajibannya untuk istrinya, Islam tidak mengajarkan agar tindakan itu dibalas dengan meninggalkan kewajibannya. Karena yang terjadi, justru timbul masalah baru.

Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i mengatakan,

فإذا قصَّر أحدُ الزَّوجيْن في حقِّ الآخر، فليس للآخَر أن يقصِّر في حقِّه، فكلٌّ مسؤول عن تقْصيره يوم القيامة.

“Jika salah satu pasangan tidak menunaikan kewajibannya kepada yang lain, bukan berarti dia harus membalasnya dengan tidak menunaikan kewajibannya kepada pasangannya. Karena masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban disebabkan keteledorannya, pada hari kiamat.”

Pelanggaran yang dilakukan oleh suami, tidak boleh dibalas dengan pelanggaran dari istri. Sehingga dua-duanya melanggar. Karena itu, solusi yang diberikan pelanggaran balas pelanggaran, tapi diselesaikan dengan cara yang baik, antara bersabar atau pernikahan dihentikan.

Lalu apa yang harus dilakukan wanita

Syaikh ar-Rifa’i melanjutkan,

وفي حالة تقْصير الزَّوج في الإنفاق، فالمرأة مخيَّرة بين أن تصبِر على ذلك، وبين أن تطلُب الطَّلاق، فإنِ اختارت الصَّبر، فإنَّه يَجب عليْها أن تُطيع زوْجَها، ويَجب عليها أن تؤدِّي كلَّ الحقوق الواجبة عليْها لزوجها، ومن ذلك حقُّه في الفراش، وإنِ اختارت الطَّلاق لَم تأثم بذلك

“Ketika suami tidak menafkahi istrinya, ada dua pilihan untuk si wanita, antara bersabar atau melakukan gugat cerai. Jika dia pilih bersabar, maka istri wajib untuk memenuhi kewajibannya kepada suaminya. Termasuk hak untuk melayani di ranjang. Dan jika istri memilih talak, dia tidak berdosa.”

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/42859/حكم-امتناع-المرأة-عن-فراش-زوجها-إذا-قصر-في-واجباته

Al-Qurthubi mengatakan,

فهِم العُلماء من قوله تعالى: {وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ} أنَّه متى عجَز عن نفقتها لم يكن قوَّامًا عليها، وإذا لم يكن قوَّامًا عليها، كان لها فسخ العقد لزوال المقْصود الذي شرع لأجْلِه النكاح

“Para ulama memahami dari firman Allah, ‘Disebabkan mereka menginfakkan harta mereka.’ bahwa ketika seorang suami tidak mampu memberikan nafkah istrinya, dia tidak disebut pemimpin bagi istrinya. Jika suami tidak lagi menjadi pemimpin bagi istrinya, maka istri berhak untuk melakukan gugat cerai. Karena tujuan nikah dalam kasus ini telah hilang.” (Tafsir al-Qurthubi, 5/168).

Ibnul Mundzir mengatakan,

ثبت أنَّ عمر كتبَ إلى أُمراء الأجناد أن ينفقوا أو يطلِّقوا

“Terdapat riwayat shahih bahwa Umar menulis surat untuk para panglima perang, agar para suami memberikan nafkah istrinya atau mentalak mereka.” (Dinukil dari Subul as-Salam, 3/224).

Demikianlah jawaban singkat atas pertanyaan Bolehkah Menolak Ajakan Suami Berhubungan, semoga bisa memberikan pencerahan dan meningkatkan kebahagiaan hubungan suami isteri yang bahagia.

Allahu a’lam.

Artikel Bolehkah Menolak Ajakan Suami Untuk Berhubungan ini adalah salah satu Ilmu Fiqih Muamalah kehidupan sehari-hari yang wajib dipahami oleh seorang agen HNI agar bisa memberi solusi terhadap setiap keluhan mitra atau calon mitra yang ditemui di lapangan.

HNI HPAI adalah pelaung bisnis yang Fokus pada dua Sisi pemberdayaan yaitu pemberdayaan Kesejahteraan keluarga dengan harapan kasus kasus seperti di atas di mana suami tidak mampu menafkahi isteri karena alasan tidak memiliki perkerjaan bisa menemukan solusi.

Demikian pula sisi yang kedua yang menjadi fokus adalah sisi kesehatan keluarga yang juga banyak menjadi masalah di tengah keluarga musli termasuk hubungan suami isteri. Ada suami yang tidak sanggup memebahagiakan atau memberikan pelayanan kepada isteri karena kesehatan seksual yang terganggu ataupun seorang isteri yang mengalami gangguan kesehatan reproduksi.

Jika sahabat ingin menjadi solusi bagi kedua masalah tersebut silahkan bergabung menjadi agen HNI HPAI dan mulai tingkatkan Kapasitas sebagai kepala keluarga dalam mencari nafkah maupun dengan meningkatkan kesehatan reproduksi.

kedua solusi di atas bisa anda temukan di HNI HPAI. Silahkan klik tombol di bawah untuk bergabung!

Saya Mau Daftar Jadi Agen HNI HPAI